Oleh: Andi Muh Yusuf
ADA yang lebih sibuk dari pelatih Argentina saat semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris.
Para pendukung Argentina.
Mereka sibuk menahan jantung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satunya mungkin Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif.
Saya sengaja memakai kata “mungkin”.
Karena saya tidak berada di ruang tamunya saat pertandingan berlangsung.
Tetapi satu hal yang diketahui banyak orang di Sidrap: Syaharuddin Alrif memang penggemar berat Argentina.
Kalau Argentina bermain, perasaannya ikut bermain.
Malam itu sebenarnya tidak dimulai dengan buruk.
Argentina tampil seperti Argentina.
Menguasai bola.
Menyerang.
Membuat Inggris lebih banyak bertahan.
Messi masih menjadi pusat permainan.
Meski usianya tidak lagi muda.
Meski rambutnya mulai berisi pengalaman.
Namun sepak bola rupanya tidak selalu adil kepada tim yang menguasai permainan.
Menit ke-55 menjadi buktinya.
Inggris justru mencetak gol lebih dulu.
Anthony Gordon menerima umpan Morgan Rogers.
Satu sentuhan.
Gol.
Skor 1-0.
Untuk Inggris.
Untuk Argentina, itu seperti ember berisi air dingin yang ditumpahkan mendadak ke kepala.
Sepak bola memang kadang kejam.
Tim yang lebih banyak menyerang belum tentu lebih dulu mencetak gol.
Dan sejak saat itu, ketegangan dimulai.
Tiga puluh menit.
Hanya tiga puluh menit.
Tetapi bagi pendukung Argentina, rasanya seperti tiga puluh hari.
Jam tetap berjalan normal.
Namun hati para penggemar Albiceleste tidak.
Mereka mulai melirik jam pertandingan lebih sering daripada melihat ponsel.
Menit 60.
Belum gol.
Menit 70.
Masih belum.
Menit 80.
Mulai cemas.
Saya membayangkan suasana itu sampai ke Sidrap.
Ke rumah-rumah yang memasang alarm dini hari.
Ke warung kopi yang masih menyala.
Ke para penggemar Argentina yang tidak rela tim kesayangannya berhenti di semifinal.
Lalu datanglah menit ke-85.
Sepak bola sering punya cara unik menyelamatkan cerita.
Messi menerima bola.
Messi melihat ruang.
Messi mengirim umpan.
Lalu muncullah Enzo Fernandes.
Namanya mungkin tidak sebesar Messi.
Wajahnya mungkin tidak terpajang di sebanyak poster.
Tetapi malam itu ia menjadi penyeimbang.
Benar-benar penyeimbang.
Ketika suasana hati pendukung Argentina sedang miring ke arah kekhawatiran, Enzo membuat semuanya kembali lurus.
Tendangan dari luar kotak penalti.
Keras.
Terukur.
Masuk.
Gol.
1-1.
Argentina hidup kembali.
Saya membayangkan banyak orang yang tadinya duduk langsung berdiri.
Yang tadinya diam langsung berteriak.
Yang tadinya pasrah kembali percaya.
Karena gol Enzo bukan sekadar gol.
Ia mengembalikan harapan.
Ia membuat Argentina kembali merasa punya masa depan.
Dan setelah harapan itu kembali, Messi menyelesaikan sisanya.
Bukan dengan gol.
Karena Messi memang suka cara yang tidak biasa.
Di menit 90+2, ia kembali mengirim umpan yang hanya bisa dilakukan pemain dengan otak sepak bola kelas dunia.
Lautaro Martinez menyambutnya.
Sundulan.
Gol.
2-1.
Argentina membalikkan keadaan.
Inggris tertunduk.
Argentina berpesta.
Messi tidak mencetak gol satu pun.
Tetapi dua gol Argentina lahir dari kakinya.
Itulah Messi.
Ketika orang menunggu keajaiban, ia memberikannya dalam bentuk assist.
Ketika orang menunggu penyelamat, ia memilih menjadi pengarah cerita.
Malam itu Argentina lolos ke final.
Dan jika benar Syaharuddin Alrif menonton pertandingan itu sampai selesai, saya yakin ada satu momen yang membuatnya paling lega.
Bukan saat peluit akhir berbunyi.
Melainkan saat Enzo Fernandes mencetak gol penyeimbang.
Karena sebelum gol itu lahir, Argentina sedang berdiri di tepi jurang.
Untung ada Fernandes.
Kalau tidak, mungkin pagi di Sidrap terasa sedikit lebih murung













Komentar